3 September 2014

TERNYATA BANYAK SEKALI ORANG YANG TIDAK TAHU SEJARAH JUMLAH RAKAAT SHALAT LIMA WAKTU







Sholat adalah ibadah terpenting bagi seorang muslim. Sholat menjadi tolak ukur kesalehan seseorang, bahkan sholat merupakan amal kunci bagi segala amal lainnya. Meski demikian jarang sekali orang mengerti bahwa masing-masing waktu sholat yang lima itu mengandung hikmah dan memiliki sejarah masing-masing.

Sholat Subuh adalah sholat pertama kali yang dilakukan oleh Nabi Adam As, dua raka'at Subuh dijalankan oleh Nabi Adam As di bumi setelah diturunkan dari surga. Waktu itu pertama kalinya Nabi Adam As melihat kegelapan, begitu gelapnya sehingga ia merasakan ketakutan yang amat sangat. Namun kemudian kegelapan itu secara lamban mulai sirna mengusir rasa takut, dan perlahan terbitlah terang. Itulah pergantian waktu malam menuju pagi. Oleh karenanya, dua raka'at Subuh dilaksanakan sebagai rasa syukur atas sirnanya kegelapan pengharapan atas datangnya kecerahan.

Nabi Ibrahim As adalah orang pertama yang melaksanakan sholat Dhuhur, Empat raka’at dhuhur dilaksanakan, ketika Allah Swt menggantikan Nabi Ismail As yang rencananya disembelih sebagai Qurban dengan seekor domba. Ini terjadi tatkala siang, tatkala matahari bergeser sedikit dari titik tengahnya. Empat raka’at itu menunjukkan beberapa perasaan Nabi Ibrahim, satu raka’at adalah penanda kesyukuran atas digantikannya Nabi Ismail As. Satu raka’at karena kegembiraan, satu raka’at untuk mencari keridloan Allah Swt dan satu raka’at lagi sebagai rasa syukur atas domba pemberian Allah Swt.

Kemudian riwayat sholat Ashar berhubungan erat dengan Nabi Yunus As. ketika diselamatkan oleh Allah Swt dari perut ikan Hut. Hut adalah nama ikan yang menelan Nabi Yunus mengarungi lautan. Dikisahkan, bahwa bentuk ikan hut hampir menyerupai burung, namun tanpa sayap. Ketika di dalam perut hut itu Nabi Yunus As merasakan empat macam kegelapan, gelap karena kekhawatiran hasya, gelap di dalam air, gelap malam dan gelap di dalam perut ikan. Demikianlah Nabi Yunus As keluar ketika matahari mulai condong ke barat dan sholat lah beliau empat raka’at sebagai penanda terbebas dari empat macam kegelapan itu.

Sedangkan tiga raka’at sholat Maghrib mempunyai sejarahnya sendiri yang tidak bisa dilepaskan dari kisah Nabi Isa As ketika berhasil keluar dari kaumnya di penghujung senja. Tiga raka’at sangat bermakna bagi Nabi Isa As. Satu rakaat menandai perjuangan beliau menegakkan tauhid dan menafikan semua bentuk sesembahan kecuali Allah. Satu raka’at untuk menafikan hinaan dan tuduhan kaumnya atas ibundanya yang melahirkannya tanpa ayah. Dan ini sekaligus menunjukkan betapa ketuhanan itu hanya milik Allah semata yang Maha Kuasa, inilah makna satu rakaat yang terakhir.

Dihilangkannya empat kesedihan yang menimpa Nabi Musa As oleh Allah Swt ketika meninggalkan kota Madyan menjadi sejarah ditetapkannya sholat Isya empat rakaat. Tercatat empat kesedihan itu berhubungan dengan istrinya, saudaranya yang bernama Nabi Harun As, anak-anaknya, dan kesedihan karena kekuasaan Fir’aun. Dan ketika semua kesedihan itu diangkat oleh Allah Swt di waktu malam, Nabi Musa As pun melaksanakan sholat empat rakaat sebagai rasa syukur atas segalanya.

Demikianlah semua hikmah yang melatar belakangi lima sholat fardhu yang diwajibkan kepada semua orang muslim hingga kini sesuai dengan tuntunan syariah.

(Dinukil dari kitab Sulamunnajah  lengkat Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi Al-Indunisi)




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...