24 Februari 2011

Menikmati Harga Diskon


Pernahkah Anda merasa kebobolan saat berbelanja?. Misalnya berniat mau belanja sebesar Rp 300.000,- Waktu meninggalkan toko, eh malah habis Rp 450.000,- akibat kemudahan kartu kredit.
Bagi orang yang punya hobby berbelanja, rasanya ini sering terjadi. Yang jarang berbelanjapun biasanya pernah mengalami kejadian pembobolan serupa ini. Kejadian seperti ini sebetulnya bukan semata-mata kepintaran toko dalam melakukan taktik dagangnya, tapi juga merupakan kesalahan konsumen yang emosional sehingga terjadilah pembelian yang tak direncanakan, atau pembelian impulsif.

Ya, gaya beli konsumen secara impulsif seperti ini sering dimanfaatkan manajemen toko untuk meningkatkan penjualannya. Lihat saja di Carrefour, Matahari, atau Ramayana misalnya. Di area pintu masuk sering dipajang barang-barang dengan harga yang amat miring.
Masuk lebih ke dalam, masih banyak gondola-gondola dipasang dengan barang yang diberi harga murah. Toko yang lebih agresif, mengiklankan promosi harga miring ini di media masa koran, majalah maupun brosur.
Betulkah harga-harga itu memang miring? Atau apakah itu cuma tipuan toko saja?. Zaman dulu memang kadang suka terdengar suara minor, bahwa itu tipuan toko saja, sebab sebelum diturunkan harganya biasanya harga awal barang itu dinaikkan dulu, hingga harga riil nya tak jauh beda dengan harga sebelumnya.
Ya, kasus itu memang pernah dilakukan toko-toko nakal. Tapi sekarang, dengan makin meningkatnya teknik manajemen bisnis, kejadian seperti itu jarang dilakukan lagi, khususnya oleh toko-toko besar. Kalau di Pasar Inpres sih, pintar-pintar menawar saja.

Lalu, darimana toko bisa untung kalau harga barangnya dibanting begitu?. Secara riil, penjualan barang itu memang tak menguntungkan, alias dijual rugi. Barang yang biasanya dijual dengan margin 30% misalnya, lalu dibanting dan dihargai dengan mengambil margin hanya 10% atau 5%. Atau untuk beberapa kasus dengan margin 0%!
Tapi apakah pembeli hanya membeli barang itu saja? Hanya membeli barang yang dipromosikan? Tentu saja umumnya tidak. Dengan adanya promosi harga murah itu menyebabkan meningkatnya traffic atau lalu lintas pengunjung ke toko itu. Penjualan meningkat.
Pembeli juga umumnya membeli barang-barang lainnya yang berharga normal. Dengan demikian secara total penjualan, keuntungan toko meningkat akibat makin tingginya volume penjualan.
Dalam hal ini toko menerapkan sistem subsidi silang, mengorbankan yang satu, mengambil untung dari yang lain yang lebih banyak akibat meningkatnya penjualan.

Masih ada barang lain yang dijual murah karena berbagai alasan. Barang bagus, tapi modelnya sudah out of date misalnya, juga dijual secara diskon. Besarnya bervariasi tergantung umur barang itu.
Ada juga barang over stock (kelebihan produksi) dari pabrikan. Daripada ditumpuk di gudang, pabrik biasanya lebih memilih mengobralnya. Tokopun banyak menerapkan teknik ini, bila mempunyai barang over stock.
Ya, demikian banyak bentuk promosi, yang harus kita sikapi secara bijaksana.

Pramuniaga cantik.
Kasus lainnya, jika melongok ke Toko-toko Fashion, atau bagian Non Food dari sebuah Depstore, seringkali ketika kita baru sampai ke pintu masuknya saja sudah dijemput pramuniaganya yang cantik-catik bak model.
Mereka akan mengajak ngobrol, memuji, memberi info, memberi saran, dan ujung-ujungnya menyarankan kita untuk membeli sesuatu barang yang ditawarkannya.

Bagi konsumen kelas tertentu, cara ini amat menyenangkannya. Merasa dirinya lebih dihargai, dilayani, dan dihormati. Akibatnya mereka akan berbelanja lebih dari kebutuhannya. Paling tidak, mengeluarkan uang lebih besar dari bujet pembeliannya.
Tapi bagi konsumen kelas lainnya, terkadang sambutan pramuniaga ini malah menakutkannya. Takut dan malu kalau setelah di-service dia tak jadi membeli. Bagi konsumen jenis ini, kadang-kadang untuk menengok atau berhenti sebentarpun tak mau. Cukup lewat saja, mengacuhkan pramuniaga-pramuniaga yang kelewat agresif.

Kasus semacam ini terjadi juga di kamar pas pakaian. Toko-toko yang pintar akan menyediakan Kamar Pas yang bagus, indah dari segi warna, pencahayaan, artistik, apalagi kalau ditambah bau-bauan yang menawan. Sehingga ketika calon pembeli mencoba bajunya terasa lebih indah, merasa lebih cocok, lebih percaya diri. Lalu emosionalnya menyembul dan akhirnya langsung memutuskan untuk membeli.
Ketika berkendaraan mobil, Anda melaju di sebelah kiri jalan, bukan? Demikian juga ketika mengendarai speda motor atau bersepeda. Juga ketika berjalan kaki, umumnya di kiri jalan, sesuai aturan lalu lintas di negara kita, pengendara harus pakai sistem setir kiri bukan setir kanan seperti di sebagian belahan dunia lainnya.

Gaya kiri ini dimanfaatkan oleh manajemen toko untuk menerapkan strateginya. Ketika konsumen masuk lewat pintu masuk toko, maka kebanyakan setelah itu mereka akan berbelok ke kiri. Sebab itu barang-barang promosi dan berharga miring, harga banting atau barang baru yang menarik, biasanya diletakkan di arah sebelah kiri setelah pintu masuk.
Pengunjung yang mengikuti alur jalan ini akan terjebak lebih dulu oleh barang-barang promosi yang lebih menarik. Akibatnya dia kemungkinan akan memborong barang-barang yang tidak direncanakan dibeli, karena tergiur dengan promosi toko. Sementara barang-barang kebutuhan dasar dan barang yang sudah direncanakannya belum terbeli. Ujung-ujungnya akan seperti tadi itu, over budget alias kebobolan.

Sementara orang yang tak mengikuti arus ini, akan membeli barang kebutuhannya dulu, atau barang yang sudah direncanakan dibeli. Lalu setelah itu, jika dia tergiur dan mau, akan membeli juga barang promosi yang ditawarkan. Gaya ini akan lebih aman buat kantong Anda.
Nah, sebagai konsumen apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa berbelanja cermat?. Yang paling utama adalah kita harus memperhitungkan anggaran dulu, lalu mengenali mana barang yang betul-betul diobral dan mana barang harga normal. Kalau memang kebetulan membutuhkan barang yang dipromosikan, belilah seperlunya.
Berpikirlah rasional, jangan emosional yang membawa kita ke pembelian secara impulsif, membeli barang tanpa perencanaan lebih dulu karena tergoda harga miring. Akibatnya, kita bakal over budget melulu. Wah!.

Tips Belanja Rasional.
Di bawah ini saran dari T.J. Reid, seorang konsultan industri ritel, tentang apa yang perlu dilakukan konsumen toko.
· Selalu membuat catatan, berapa macam barang yang akan dibeli, dan berapa unit jumlahnya masing-masing. Jangan membeli melebihi rencana semula.
· Ketika masuk toko, jangan langsung belok kiri. Belanjalah kebutuhan yang direncanakan dulu. Setelah itu barulah lihat barang-barang promosi.
· Waktu berbelanja di toko, hindarkan untuk ditemani pegawai toko.
· Jangan memutuskan untuk membeli ketika sedang berada di dalam Kamar Pas. Setelah selesai ngepas, bawalah barangnya keluar dulu, lalu putuskan untuk membeli atau tidak.
· Keluarlah dulu dari ruangan yang penuh harum-haruman. Jangan terhipnotis oleh bau-bau wangi yang artifisial.
· Masuklah ke toko dan ambil barang promosi yang memang dibutuhkan. Hati-hati membeli barang di sekelilingnya yang mungkin marginnya terlalu tinggi.

Sumber : Smart Shooping
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...