24 Februari 2011

Tips Belanja Diskon Akhir Tahun




   THR telah lewat, muncul Bonus akhir tahun.
Ya, pembagian THR lebaran memang sudah berlalu, tapi banyak karyawan non Islam yang baru menerima THR nya pada akhir tahun sebesar THR lebaran. Disamping itu di akhir tahun biasanya banyak perusahaan yang menggelontorkan bonus akhir tahunnya kepada para karyawan. Ujung-ujungnya, banyak toko yang menggelar Promosi “Year-end sales”nya guna berebut kue akhir tahun.

Rada berbeda dengan promosi lebaran yang umumnya menjual pakaian, makanan dan kebutuhan orang mudik, di akhir tahun barang yang dipromosikan itu banyak yang berharga lebih mahal seperti produk elektronik, disamping produk lainnya yang kadang bersifat sekunder. Sebagian masyarakat berbelanja untuk kebutuhan Natalan dan Tahun baru. Sebagian lain berbelanja kebutuhan sekundernya, termasuk untuk memuaskan hobbynya. Lagipula, pendapatan dari bonus itu umumnya lebih besar dari sekedar THR.
Tentu saja bila penghasilan akhir tahun yang didapat itu relatif lebih besar, tak perlu dihabiskan semua untuk sekedar membeli pakaian, makanan atau barang hobby. Banyak orang menggunakannya untuk membereskan kebutuhan jangka panjangnya, antara lain Utang. Gunakan Uang itu untuk melunasi utang kita lebih dulu. Dengan demikian, kita akan terhindar dari kewajiban membayar bunga utang yang bisa makin berlipat dalam tahun-tahun mendatang. Sebaiknya, prioritaskan dulu utang yang membebankan bunga paling besar. Di bilangan Kartu kredit pun tingkat suku bunganya berlainan. Utamakan untuk yang “mencekik” leher dulu.
Lalu simpan sebagian untuk ditabung, atau membeli produk investasi. Menabung di bank, buka deposito, beli emas, masukkan ke reksadana, apa pun itu. Jangan lupa asuransi. Untuk kebutuhan sekolah anak di masa datang misalnya, atau asuransi kecelakaan, buat jaga-jaga. Nah, kalau urusan keuangan utama kita sudah beres, investasi untuk jaga-jagapun sudah disisihkan, mari kita berbelanja yang perlu-perlu.

Mencermati PERANG DISKON
Toko umumnya berperang antar sesama pesaingnya dengan memakai senjata diskon. Slogan-slogan Paling Murah, Super Spesial, Harga Tonjok, dan seabrek penawaran unik lainnya kerap kita dengar. Apalagi di kelas hipermarket yang bersaing seru saat ini, masing-masing ngotot ingin menang. Yang satu menawarkan:”Paling murah!. Bila lebih mahal, dikembalikan selisih harganya”. Toko lain menimpalinya: “Bila lebih mahal, selisih harganya diganti dua kali lipat!”. Ini hanya salah satu contoh bentuk perang saja. Yang untung konsumennya, bisa melirik sana-melirik sini, cari yang paling miring.
Bentuk penawaran promosi juga sangat beragam. Untuk produk elektronik misalnya, ada yang menawarkan diskon langsung, artinya didskon 10%, 25%, dst dari harga jual. Ada juga yang diskonnya berupa barang atau produk berbeda. Yang lain menawarkan diskon dengan cara boleh membeli produk tertentu dengan harga sangat murah. Gaya lain, beli dua gratis satu, dan aneka penawaran lainnya. Semuanya mempunyai arti sama, yaitu potongan harga alias Harga murah.

Untuk barang elektronik atau non food lainnya, kita harus lebih teliti menilai kualitasnya. Ada garansinya tidak? Kalau ada, tanyakan dari perusahaan mana? Kalau barang itu bersumber dari satu agen maka perusahaan yang menggaransinya biasanya sama, meskipun dijual di dua toko yang berbeda. Tapi kalau perusahaan penggaransinya berbeda, kita harus lebih hati-hati. Pastikan mana perusahaan yang resmi wakil dari agennya. Ini perlu diketahui karena saat ini ada istilah “back market”. Digunakan untuk produk yang diimpor oleh perusahaan bukan agen resminya di Indonesia. Mereka mengimport barang secara gelap, tentunya berharga lebih murah. Tapi konsekuensinya after sales servicenya belum tentu bisa segampang di agen resmi, karena mereka menangani sendiri urusan garansi dengan menunjuk perusahaan lain. Yah, yang namanya tak resmi biasanya untung-untungan juga, kadang bagus servisnya, kadang bermasalah. Tinggal kembali ke konsumennya, bila menginginkan harga yang lebih murah tapi garansinya “semoga” bagus, ya ambillah. Tapi kalau mau tidur lebih tenang, ambil saja yang keluaran agen resmi dengan harga standard, alias lebih mahalan.

Ada lagi gaya promosi yang rada kreatif akhir-akhir ini. Ada toko yang menantang: “Kami beli barang bekas Anda”, bunyi iklannya. Barang bekas Anda, kulkas misalnya, yang masih baik maupun sudah rusak akan dibeli oleh toko. Ada apa gerangan kok rajin-rajinnya toko itu mau membeli barang bekas kita, yang sudah tak berfungsi sekalipun. Kita akan tahu maksudnya kalau mengetahui syarat berikutnya: “Hasil penjualan barang bekas Anda, harus dibelikan lagi untuk barang serupa yang dijual toko itu”. Begitulah, ini kan tak ada bedanya dengan diskon juga.
Kulkas bekas milik kita misalnya, dihargai sebesar Rp 200.000,- oleh toko. Lalu voucher hasil penjualannya harus kita belikan kulkas baru di toko itu yang berharga minimal Rp 1,5 juta. Ini sama saja artinya toko itu memberikan diskon 13% untuk pembelian kulkas. Persentase diskonnya bisa lebih besar bisa lebih kecil, tergantung jenis barangnya. Ini pintar-pintaran toko saja membuat program biar menarik.
Bagaimana menyikapi promosi ini? Hitung saja dulu berapa harga ahir kulkas itu setelah dipotong “diskon”. Lalu cek ke beberapa toko lain berapa harga jualnya. Bila lebih murah, ya ambil saja. Tapi bila lebih murahnya sangat “tipis”, sebanding tidak dengan ongkos memanggul barang bekas kita untuk di”jual” ke toko itu?. Apalagi jika kulkas bekasnya masih bisa berfungsi. Silahkan hitung-hitung dulu.
Banyak aneka barang lain yang ditawarkan seperti speda gunung, komputer, telpon seluler, alat olahraga dan lain-lain. Toko umumnya bisa menjual lebih murah karena mendapat diskon kuantitas dari produsen atau agennya. Dan itu hal yang biasa dalam dunia bisnis.

Beberapa tips untuk membeli barang diskon.
· Sisihkan dulu, berapa budget untuk membeli barang yang dibutuhkan. Pegang angka ini dengan ketat.
· Belilah barang yang memang dibutuhkan. Jangan belanja karena menuruti perasaan kita saja sewaktu jalan-jalan di toko (impulsif).
· Teliti kualitas barangnya. Barang standard, barang bekas pakai, ada garansi?
· Untuk barang-barang tertentu, ada jasa antaran tidak?
· Jangan membeli secara kredit kalau mampu membeli tunai. Dengan begitu, pengeluaran kita lebih mudah terkontrol, juga tidak terbebani bunga bank.

Sumber : Smart Shooping
Semoga bermanfaat
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...